• header
  • header
  • alaskapala
  • inkai sman 1 cipari

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 1 CIPARI | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 CIPARI

NPSN : 11111111

Jl.MT.Haryono 04 Cipari Cilacap Telp.0280-6226190


info@sman1cipari.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 110491
Pengunjung : 32518
Hari ini : 33
Hits hari ini : 130
Member Online : 9
IP : 54.221.73.186
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2017-05-04 09:05:37

    Semat dan semoga sukses selalu buat anak-anak ku kelas XII SMAN 1 Cipari yang telah selesai menempuh pendidikan di SMA. Semoga semuan...
  • DARTO S.Pd (Guru)
    2017-03-20 14:09:03

    Apa yang Anda pikirkan?
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:18:00

    1|2
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:16:10

    1|1
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2016-03-23 12:41:19

    keadilan yang tertunda atau terlupakan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-12-10 08:40:54

    Prepare buat bikin wadah kreatifitas siswa...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2015-11-21 17:31:57

    Kebenaran itu akan semakin rumit jika ketakbenaran yang dibenarkan............
  • SALMIZAN S.Pd (Guru)
    2015-11-04 18:35:37

    Apa yang Anda pikirkan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-11-04 12:32:18

    cipari menunggu hujan........

Tugas Guru, Dahulu dan Sekarang




Orang yang menjatuhkan pilihan berprofesi sebagai guru, sadar benar dengan segala suka dan dukannya, hak dan risiko yang diembannya. Jika dideskripsikan dengan sebuah kalimat, tugas guru sangat simpel, membimbing anak menjadi baik dalam banyak hal. Namun, tugas guru menjadi lebih berat karena persoalan anak atau peserta didik  jauh lebih kompleks, tidak sebatas menata kata menjadi kalimat.

 

 

Pada masa tertentu, guru dianggap sukses jika mampu mengantar anak lulus dari sekolah dengan sederat angka mendekati sempurna 9 atau bahkan sempurna, yaitu 10. Ketika itu, angka 9 dan 10 mencerminkan kemampuan anak dalam banyak hal. Logika berpikirnya terbukti cerdas, kecakapan praktiknya bisa diandalkan, dan unggah-ungguhnya berbanding lurus dengan angka 9 dan 10, beretika. Itu dahulu, ketika masyarakat kita masih lugu, banyak pihak belum terbiasa ngotak-ngatik angka.

 

 

Menyiapkan anak memiliki kompetensi setara 9 dan 10 –angka asli, tidak mengenal konversi- saat itu pun relatif lebih terjangkau. Tantangan saat tentu ada. Karena tantangan atau kendala akan tetap ada sampai kapan pun, namun bisa dibaca dan mudah diantisipasi. Misalnya, kurangnya fasilitas. Anak belajar dengan penerangan seadanya. Anak belajar dengan menahan letih karena energinya terkuras untuk jalan kaki atau bersepeda berkilo-kilo meter jauhnya. Guru, dengan arif dan fasilitas seadanya, mampu mengantisipasi kendala, sehingga pendidikan kita –untuk ukuran saat itu—berjalan dengan baik.

 

 

Zaman berubah, musim berganti, pola pikir dan pola perilaku  melesat berganti total, seakan tidak meninggalkan jejak. Angka-angka yang disajikan guru pada buku rapot seringkali bisu tidak bercerita. Kompetensi anak –hampir di semua level pendidikan- tidak bisa terbaca jika hanya mengandalkan deretan angka. Dunia kerja berdalih, bahwa mereka butuh keterampilan, butuh kecakapan.  Salah siapa? Tidak perlu saling menyalahkan. Saling menyalahkan hanya berujung pada kebekuan, sementara kita butuh solusi. Solusi hanya bisa tercapai dari sebuah kesadaran, bahwa kejujuran dan dedikasi dari semua pihak harus menjadi ruh dari sebuah kemajuan.

 

 

Tugas guru tak pernah sepi dari tantangan. Sekarang, guru dituntut berani bersaing dengan banyak hal. Guru harus tampil lebih menarik dari fasilitas yang tersedia di gadget, agar siswa menaruh perhatian pada pelajaran. Guru juga dihadapkan pada “lawan”  baru, yaitu sederetan acara sinetron di hampir semua stasiun TV, yang sering kontra-produktif dengan nilai-nilai kepribadian yang ditawarkan dunia pendidikan. Pendeknya, guru tidak sekadar tampil sistematis menerangkan dan memberi contoh materi yang disajikan, ia juga harus melipatgandakan  pikiran, perasaan, dan keterampilan agar guru  mampu beradaptasi dengan cepatnya perubahan.

 

 

Jika guru boleh meminta, tentu akan benyak daftar permintaan   yang  disodorkan  pada masyarakat. Namun, pasti guru akan memprioritaskan usulan, yaitu pengertian dari banyak pihak.  Pendidikan yang bertujuan menjadikan anak bisa  dan beradab, sejatinya bukan hanya tugas guru di sekolah. Ada orang tua, ada masyarakat, ada pemerintah, dan ada media sosial yang mengitari dan ikut andil membentuk kepribadian anak.  

 

 

Dengan segala tantangan yang harus dihadapi,  guru harus selalu tampil dengan “kemasan” yang  menarik. Teruslah para guru berkarya. Guru harus tetap optimis, bahwa tantangan itulah yang mendewasakan dan menumbuhkan ide-ide kreatif. Lebih dari itu, jika tugas sebagai guru dilakukan dengan ikhlas dan berdedikasi, pahala tidak berkesudahan akan menjadi investasi berharga di akhirat kelak.

 

Selamat Hari Guru

Semoga keberkahan selalu mengiringi tugas  Bapak dan Ibu Guru.

 

Sidareja, 21 November 2017




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : BAMBANG SETIAWAN -  [bamb.sty@gmail.com]  Tanggal : 24/11/2017
Semoga kita tetap bisa menjadi guru yang amanah.... aamiin


   Kembali ke Atas