• header
  • header
  • alaskapala
  • inkai sman 1 cipari

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 1 CIPARI | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 CIPARI

NPSN : 20300596

Jl.MT.Haryono 04 Cipari Cilacap Telp.0280-6226190


info@sman1cipari.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 947910
Pengunjung : 349652
Hari ini : 141
Hits hari ini : 391
Member Online : 9
IP : 216.73.217.35
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • DARTO S.Pd (Guru)
    2020-03-30 07:26:15

    TERMOMETER OPTIK Termometer optik adalah alat pengukur suhu yang memanfaatkan sinar inframerah yang dipancarkan oleh benda. Jika suhu benda menin...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2017-05-04 09:05:37

    Semat dan semoga sukses selalu buat anak-anak ku kelas XII SMAN 1 Cipari yang telah selesai menempuh pendidikan di SMA. Semoga semuan...
  • DARTO S.Pd (Guru)
    2017-03-20 14:09:03

    Apa yang Anda pikirkan?
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:18:00

    1|2
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:16:10

    1|1
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2016-03-23 12:41:19

    keadilan yang tertunda atau terlupakan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-12-10 08:40:54

    Prepare buat bikin wadah kreatifitas siswa...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2015-11-21 17:31:57

    Kebenaran itu akan semakin rumit jika ketakbenaran yang dibenarkan............
  • SALMIZAN S.Pd (Guru)
    2015-11-04 18:35:37

    Apa yang Anda pikirkan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-11-04 12:32:18

    cipari menunggu hujan........

Meski Jasamu Tak Terpublikasi (Kado untuk Para Guru)




Tidaklah tepat jika kita saling mengklaim bahwa profesi tertentu lebih mulya atau lebih berjasa dari profesi yang lain. Sama tidak bijaksananya menganggap bahwa profesi tertentu lebih tidak mulya dibandingkan profesi yang lain. Cukup bijak, seandainya banyak pihak menempatkan dan mengharagai setiap profesi atau pekerjaan  secara proporsional.

Di penghujung bulan November ini –menjelang Hari Guru, tanggal 25 November 2015- , terngiang dibenak kita betapa ada orang-orang yang telah berjasa mengantar kita pada peradaban yang lebih berkelas atau dewasa, mereka adalah guru-guru kita. Tentu, kita ucapkan “Selamat Hari Guru”, yakinlah jasamu tak akan berkurang apa lagi terhapus walaupun pada pundakmu tak tersematkan tanda jasa atau penghargaan semacamnya. Bukankah sejak awal kita menancapkan cita-cita dan berketetapan untuk menjadi guru adalah berburu ladang pengabdian?

Peribahasa “Guru pahlawan tanda jasa” sedikitpun tidak pernah dirisukan atau dipersoalkan  oleh orang-orang yang mendedikasikan  pikiran dan tenaganya untuk kemajuan pendidikan. Bagi guru yang selalu menghadirkan hati dalam setiap pekerjaannya, senyuman dan tatapan tulus dari murid-murid  yang belajar di sekitarnya adalah sebuah keberkahan. Sapaan dan mungkin salam –assalamualaikum-  dari orang-orang yang pernah belajar 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, bahkan 30 tahun yang lalu adalah hiburan yang dapat mengurangi beban tanggung jawab pekerjaannya. Bahkan, nyanyian yang melagenda berisi pujian dan sindiran “Umar Bakri” untuk guru pun tidak menyebabkan semangat pengabdiannya terkebiri.

...

Oemar Bakri, Oemar Bakri 40 tahun mengabdi

Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar Bakri, Oemar Bakri banyak ciptakan menteri

Oemar Bakri, Profesor dokter insinyur pun jadi

Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

            ...

            Jika ada kritikan atau sikap yang kadang merendahkan secara tidak proporsional terhadap peran guru, tidak menyebabkan para “pendekar pendidikan” berkecil hati dan  mengurangi takaran pengabdiannya. Ia tetap berbakti, meskipun masih ribuan di antara mereka yang jerih payahnya setiap bulan dihargai tak lebih dari seper sepuluh UMR pekerja pabrik di DKI.  Untuk mencukupi kebutuhan harian, banyak di antara guru yang mengais keberkahannya melalui apa saja yang penting halal dan legal, toh itu juga tidak menurunkan tensi keikutsertannya dalam mengantarkan kecerdasan anak bangsa.

            Sikap baik  atau pujian berlebihan terhadap peran  guru –lebih-lebih menjelang dan setelah Hari Guru- tidak menyebabkan guru perasaannya terbang melambung karena senang. Meminjam pernyataan Iwan Fals dalam syair lagu Oemar Bakri, yang mencetak profesor, dokter, dan insinyur adalah banyak pihak. Guru hanya mengambil sebagian perannya dalam setiap proses orang menjadi pintar dan baik.  Semua orang tahu, tanpa sarana yang memadai, dan motivasi yang kuat dari peserta didik,  kehebatan guru hanya menjadi cerita yang tak berujung pada keberhasilan.

            Namun demikian, tidak inginkah kita sebagai sebuah bangsa  menghormati setiap profesi, termasuk kepada guru. Kalau keinginan kita sama, semestinya cara berpikir yang terkadang tidak adil harus kita akhiri. Sehingga, kebaikan guru tidak hanya dibicarakan secara tulus di sekitar bulan November, menjelang dan setelah hari guru. Di luar itu, lebih banyak dibicarakan dan dituntut kewajiban-kewajiban yang sudah menumpuk dan masih saja dirasa kurang. Betapa kita tidak prihatin, jika ada keberhasilan berupa prestasi, maka diskusi lebih mengarah pada lengkapnya sarana, kualitas peserta didik, dan sejenisnya. Sebaliknya, jika ada gejala rendahnya prestasi, berbagai pihak –anehnya selalu kompak- mengacungkan jari telunjuknya bahwa gurulah penyebabnya.

            Kepada rekan guru, jangan berputus asa. Pendidikan tidak pernah berhenti. Memahamkan banyak pihak tentang arti pentingnya sebuah profesi butuh waktu. Menyadarkan banyak orang bahwa pilar utama  kemajuan adalah pendidikan dan guru berperan penting di dalamnya juga tidak mudah. Sama pentingnya, kita harus menyadari  bahwa kemajuan pendidikan pasti melibatkan banyak pihak.

            Wajar dan boleh saja guru memimpikan sebuah keadaan masyarakat yang satu dengan lainnya saling menopang dalam memajukan pendidikan. Misalnya, disepakati tanpa berpolemik jika tayangan semua stasiun televisi untuk jam-jam belajar anak –sebut saja pukul 18 – pukul 21- tidak menayangkan hiburan. Semua televisi membuat program siaran pendidikan, berita, dialog, atau sejenisnya. Sehingga pilihan anak terbatas: belajar atau nonton TV program pendidikan. Guru sangat menyadari, bahwa mereka memiliki keterbatasan kemampuan. Sehebat-hebatnya perencanaan pembelajaran di kelas yang dirancang oleh guru,  acap kali tak mampu bersaing dengan program hiburan yang ditayangkan di stasiun TV. Masihkah kita mengarahkan telunjuk hanya kepada guru jika perjalanan pendidikan di negeri ini masih tertatih dan banyak kendala?

* Penulis adalah  

- Guru SMAN 1 Cipari, Pendiri dan Pembina Yayasan Titian Robbani Cilacap




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas