Anak Berhadapan dengan Pilihan: Nonton TV atau Belajar
Kita sejenak bernostalgia pada keadan masyarakat puluhan tahun yang lalu, sebut saja kehidupan tahun 80-an. Pada saat itu, akses informasi belum semaju sekarang. Hiburan yang dapat dinikmati masyarakat pun terbatas oleh waktu, terbatas juga oleh tempat. Artinya, orang tidak dapat menikmati atau mengisi hidupnya dengan memperbanyak hiburan. Sesekali orang terhibur dengan pentas wayang kulit, ketoprak, ludrug, dan lengger dari hajatan tetangga atau pada saat bangsa ini memperingati HUT RI, tujuh belasan. Hiburan yang jarang tadi pun masih lebih banyak menawarkan nilai-nilai hidup daripada mengajak orang tertawa lepas.
Sekelumit informasi di atas kita bandingkan dengan keadaan saat ini. Bukankah hiburan, tertawa, lelucon dapat kita nikmati sepanjang waktu? Salah satu pemasok hiburan paling popular adalah TV. Media ini sudah masuk ke rumah-rumah penduduk. Sesederhana dan sekurang apapun setiap rumah cenderung ada televisinya.
Persoalannya bukan pada keberadaan TV ti rumah-rumah kita. Namun, kita sedang sedikit merenung, mengapa tak ada kesepakatan yang ketat tentang kapan kontes dangdut ditayangkan, jam berapa lawak tampil, saat-saat seperti apa sinetron tayang, Boleh juga jika ada kesepakatan –aturan resmi yang ditaati semua pihak- yang mewajibkan sekian persen dari siaran televisi berisi program-program yang mendidik. Bagi sebagian orang, keadaan yang seperti ini mungkin bukan masalah. Namun, jika kita mau sedikit merenung dan berpikir tentang masa depan anak-anak kita, keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan, harus ada penyelesaian yang melibatkan banyak pihak.
Tantangan berat memang dialami oleh banyak pihak, salah satu diantaranya adalah dunia pendidikan. Pendidikan memiliki dua tugas beser dan mulia, menjadikan anak pintar dan mengantar anak berkepribadian. Pintar dan berkepribadian bukanlah perkara mudah, karena pendidikan butuh proses, butuh waktu, butuh dukungan nyata dari semua pihak, pendidikan bukan barang instant. Dukungan tidak hanya diartikan kesediaan masyarakat ikut serta dalam pembiayaan pendidikan. Dukungan juga tidak selesai jika penyelenggara negara hanya memenuhi dan melengkapi fasilitas sekolah. Dukungan harus lahir dari banyak pihak.
Tanpa bermaksud menasihati, sekiranya orangtua mengambil peran maskimal dalam mengurangi persoalan belajar anak, kemungkinan prestasi dan lepribadian anak akan lebih baik.Kekompakan anggota keluarga dalam menyikapi keberadaan TV di rumah dibutuhkan. Orangtua memiliki peran yang sangat menentukan. Sekiranya, disepakati jam-jam belajar (misalnya pukul 18.00 – 20.30) keluarga tidak menghidupkan TV, tentu ini akan membuat suasana belajar anak lebih nyaman. Ia tidak akan tergoda untuk mengabaikan PR atau tugas lain hanya untuk berlama-lama menghabiskan waktu menyaksikan sinetron misalnya. Pastikan bahwa keberadaan TV di rumah adalah sebagai media informasi dan hiburan ala kadarnya di sela-sela banyknya kegiatan belajar yang harus diselesaikan. Orangtua juga berperan sebagai pendamping pada saat anak sedang menonton TV, setidaknya meluruskan atau memberi informasi tambahan jika ada tayangan yang kurang selaras dengan misi pendidikan.
Bagi para pelajar, apalagi yang sudah menginjak SLTP atau SLTA dihadapkan pada pilihan menonton TV atau belajar. Jatuhkan pilihan dengan memperbanyak belajar. Berlama-lama di depan TV dengan program siaran hiburan (dangdut, lawak, sinetron dan sejenisnya) bukan hanya menyita kesempatan anak belajar, namun juga berpotensi tergerusnya nilai-nilai kebribadian dan terganti oleh hal-hal yang kurang baik. Bukankah kita sepakat bahwa lebih banyak stasiun TV yang lebih berorientasi pada rating daripada idealisme menanamkan kepribadian?
Kepada rekan yang berprofesi sebagai pendidik, tentu tidak boleh berlama-lama menyalahkan banyak pihak. Tantangan selalu ada. Kemajuan teknologi di satu sisi memudahkan tugas mulia guru dan pada sisi yang lain merupakan kendala jika para pendidik tidak dapat mengelola dan memaksimalkan perannya. Tampil dengan meyakinkan di depan peserta didik karena penguasaan materi, keterampilan memilih media dan metode pembelajaran, dan karena keluhuran budi adalah bentuk lain dari kepedulian dan rasa tanggung jawab. Jika ini dalakukan dan dimiliki oleh para pendidik kita, dipastikan akan memperbanyak anak (siswa) yang menjatuhkan pilihan pada belajar dan lambat laun mengurangi interaksi dengan TV.
Bagi pengelola TV -belum tentu akan membaca tulisan ini- selipkan idealisme di tengah-tengah gemuruh dan persaingan bisnis. Ada tanggung jawab terhadap kebaikan moral bangsa yang harus diperjuangkan. Anak-anak kita yang setiap hari disuguhi hiburan yang kurang mendidik melalui TV adalah juga calon pengisi dan penerus negeri ini. Berikan hak pada mereka untuk mengendalikan negeri ini pada masa yang akan dengan tingginya prestasi dan keluhuran budi.
* Penulis adalah:
Guru Bahasa Indonesia pada SMAN 1 Cipari, Cilacap
Pendiri dan Pembina SD Cahaya Gandrungmangu, Cilacap
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) di SMAN 1 Cipari
- KEBUGARAN JASMANI
- TERNYATA, MATEMATIKA ITU TAK MENAKUTKAN
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
Kembali ke Atas






