• header
  • header
  • alaskapala
  • inkai sman 1 cipari

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 1 CIPARI | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 CIPARI

NPSN : 20300596

Jl.MT.Haryono 04 Cipari Cilacap Telp.0280-6226190


info@sman1cipari.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 947919
Pengunjung : 349652
Hari ini : 141
Hits hari ini : 400
Member Online : 9
IP : 216.73.217.35
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • DARTO S.Pd (Guru)
    2020-03-30 07:26:15

    TERMOMETER OPTIK Termometer optik adalah alat pengukur suhu yang memanfaatkan sinar inframerah yang dipancarkan oleh benda. Jika suhu benda menin...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2017-05-04 09:05:37

    Semat dan semoga sukses selalu buat anak-anak ku kelas XII SMAN 1 Cipari yang telah selesai menempuh pendidikan di SMA. Semoga semuan...
  • DARTO S.Pd (Guru)
    2017-03-20 14:09:03

    Apa yang Anda pikirkan?
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:18:00

    1|2
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:16:10

    1|1
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2016-03-23 12:41:19

    keadilan yang tertunda atau terlupakan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-12-10 08:40:54

    Prepare buat bikin wadah kreatifitas siswa...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2015-11-21 17:31:57

    Kebenaran itu akan semakin rumit jika ketakbenaran yang dibenarkan............
  • SALMIZAN S.Pd (Guru)
    2015-11-04 18:35:37

    Apa yang Anda pikirkan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-11-04 12:32:18

    cipari menunggu hujan........

Anak Berhadapan dengan Pilihan: Nonton TV atau Belajar




 

                Kita sejenak bernostalgia pada keadan masyarakat  puluhan tahun yang lalu, sebut saja kehidupan tahun 80-an. Pada saat itu, akses informasi belum semaju sekarang. Hiburan yang dapat dinikmati masyarakat pun terbatas oleh waktu, terbatas juga oleh tempat. Artinya, orang tidak dapat menikmati atau mengisi hidupnya dengan memperbanyak hiburan. Sesekali orang terhibur dengan pentas wayang kulit, ketoprak, ludrug, dan lengger  dari hajatan tetangga atau pada saat bangsa ini memperingati HUT RI, tujuh belasan. Hiburan yang jarang tadi pun masih lebih  banyak menawarkan nilai-nilai hidup daripada mengajak orang tertawa lepas.

 

            Sekelumit informasi di atas kita bandingkan dengan keadaan saat ini. Bukankah hiburan, tertawa, lelucon dapat kita nikmati sepanjang waktu? Salah satu pemasok hiburan paling popular adalah TV. Media ini sudah masuk ke rumah-rumah penduduk. Sesederhana dan sekurang apapun setiap rumah cenderung  ada televisinya.

 

            Persoalannya bukan pada keberadaan TV ti rumah-rumah kita. Namun, kita sedang sedikit merenung, mengapa tak ada kesepakatan yang ketat tentang kapan kontes dangdut ditayangkan, jam berapa lawak  tampil, saat-saat seperti apa sinetron tayang, Boleh juga jika ada kesepakatan –aturan resmi yang ditaati semua pihak- yang mewajibkan sekian persen dari siaran televisi berisi program-program yang mendidik. Bagi sebagian orang, keadaan yang seperti ini mungkin bukan masalah. Namun, jika kita mau sedikit merenung dan berpikir tentang masa depan anak-anak kita, keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan, harus ada penyelesaian yang melibatkan banyak pihak.

 

            Tantangan berat memang dialami oleh banyak pihak, salah satu diantaranya adalah dunia pendidikan. Pendidikan memiliki dua tugas beser dan mulia, menjadikan  anak pintar  dan mengantar anak berkepribadian. Pintar dan berkepribadian bukanlah perkara mudah, karena pendidikan butuh proses, butuh waktu, butuh dukungan nyata dari semua pihak, pendidikan bukan barang instant. Dukungan tidak hanya diartikan kesediaan masyarakat ikut serta dalam pembiayaan pendidikan. Dukungan juga tidak selesai jika penyelenggara negara hanya memenuhi dan melengkapi fasilitas sekolah. Dukungan harus lahir dari banyak pihak.

 

            Tanpa bermaksud menasihati, sekiranya orangtua mengambil peran maskimal dalam mengurangi persoalan belajar anak, kemungkinan  prestasi dan lepribadian anak akan lebih baik.Kekompakan anggota keluarga dalam menyikapi keberadaan TV di rumah dibutuhkan. Orangtua memiliki peran yang sangat menentukan. Sekiranya, disepakati jam-jam belajar (misalnya pukul 18.00 – 20.30) keluarga tidak menghidupkan TV, tentu ini akan membuat suasana belajar anak lebih nyaman. Ia tidak akan tergoda untuk mengabaikan PR atau tugas  lain hanya untuk berlama-lama menghabiskan waktu menyaksikan sinetron misalnya. Pastikan bahwa  keberadaan TV di rumah adalah sebagai media informasi dan hiburan ala kadarnya di sela-sela banyknya kegiatan belajar yang harus diselesaikan. Orangtua juga berperan sebagai pendamping pada saat anak sedang menonton TV, setidaknya meluruskan atau memberi informasi tambahan jika ada tayangan yang kurang selaras dengan misi pendidikan.

 

Bagi para pelajar, apalagi yang sudah menginjak SLTP atau SLTA dihadapkan pada pilihan menonton TV atau belajar. Jatuhkan pilihan dengan memperbanyak belajar. Berlama-lama di depan TV dengan program siaran hiburan (dangdut, lawak, sinetron dan sejenisnya) bukan hanya menyita kesempatan anak belajar, namun juga berpotensi tergerusnya nilai-nilai kebribadian dan terganti oleh hal-hal yang kurang baik. Bukankah kita sepakat bahwa lebih banyak stasiun TV yang lebih berorientasi pada rating daripada idealisme menanamkan kepribadian?

 

Kepada rekan yang berprofesi sebagai pendidik, tentu tidak boleh berlama-lama menyalahkan banyak pihak. Tantangan selalu ada. Kemajuan teknologi di satu sisi memudahkan tugas mulia guru dan pada sisi yang lain merupakan kendala jika para pendidik tidak dapat mengelola dan memaksimalkan perannya. Tampil dengan meyakinkan di depan peserta didik karena penguasaan materi, keterampilan memilih media dan metode pembelajaran, dan karena keluhuran budi adalah bentuk lain dari kepedulian dan rasa tanggung jawab. Jika ini dalakukan dan dimiliki oleh para pendidik kita, dipastikan akan memperbanyak anak (siswa) yang menjatuhkan pilihan pada belajar dan lambat laun mengurangi  interaksi dengan  TV.

 

            Bagi pengelola TV  -belum tentu akan membaca tulisan ini- selipkan idealisme di tengah-tengah gemuruh dan persaingan bisnis. Ada tanggung jawab terhadap kebaikan moral bangsa yang harus diperjuangkan. Anak-anak kita yang setiap hari disuguhi hiburan yang kurang mendidik melalui TV adalah juga calon pengisi dan penerus negeri ini. Berikan hak pada mereka untuk mengendalikan negeri ini pada masa yang akan  dengan tingginya prestasi dan keluhuran budi.

 

* Penulis adalah:  

 

Guru Bahasa Indonesia pada SMAN 1 Cipari, Cilacap

 

Pendiri dan Pembina SD Cahaya Gandrungmangu,  Cilacap

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas