Membangun Karakter melalui Keteladanan (untuk Para Pendidik)
Mencermati pernyataan gubernur salah satu provinsi di negeri ini tentang PNS tidak harus lulusan SMA atau SMP, lulusan SD pun bisa jadi PNS, menjadi keprihatinan kita semua. "Nah saya mau ubah Pergub, bila perlu orang yang tak lulus SMA-pun, SMP, kalau karakternya baik, walaupun hanya lulus SD, itu boleh diterima PNS", tegas sang gubernur (Detik, 1 Februari 2016). Dari pernyataan tersebut, setidaknya ada dua hal yang memprihatinkan. Pertama, pernyataan tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa tingginya pendidikan ternyata tidak berbanding lurus dengan kebaikan budi. Kedua, seburuk apapun karakter masyarakat kita, tidak boleh kita berpikir mundur ke masa lalu. Masa kita tidak bercermin dari semboyan pegadaian, “Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah.”
Bukan porsinya bicara terlalu jauh mengomentari pernyataan pejabat di atas. Sebagai pendidik dan pemerhati pendidikan –meskipun kelas pinggiran- saya bermaksud melepaskan kegundahan tentang karakter (keperibadian) anak-anak kita yang semakin hari semakin tak menggembirakan. Banyak pihak sudah memberikan kontribusi untuk perbaikan moral para pelajar, generasi muda penerus masa depan bangsa. Sungguh, setiap langkah itu tetap berarti dan berdampak baik. Seperti konsep pendidikan karakter yang mulai terintegrasi pada Kurikulum 2006 dan lebih ditancapkan lagi pada Kurikulum 2013. Namun, masih adakah yang tanpa kita sadari terlewatkan atau terlupakan? Menurut hemat saya masih ada yang kita abaikan, yaitu pentingnya keteladanan.
Kita yakin anak-anak kita kelak akan menjadi anak-anak yang baik, sopan dan beretika, jujur dalam setiap tindakan, dan tidak berkompromi dengan setiap pelanggaran dan kejahatan, jika apa yang mereka dengar, apa yang mereka lihat, singkatnya apa yang mereka saksikan setiap hari adalah baiknya keteladanan. Jika anak-anak kita berada di keluarga, mereka tidak menjumpai apapun kecuali keteladanan baik dari orangtua dan anggota keluarga lain. Lihat saja, betapa banyak seorang ayah yang melarang anaknya merokok, pada saat yang sama ia sedang menikmati kepulan asap beracun pada rokok. Seorang ibu yang meminta anaknya untuk belajar atau mengerjakan PR –kadang-kadang sambil marah- padahal sang ibu tersebut sedang menyaksikan sinetron di TV.
Sementara, jika anak-anak kita berada di masyarakat, mereka tidak menjumpai apapun kecuali keteladanan baik dari tokoh masyarakat. Kita yakin anak-anak kita kelak menjadi aorang-orang yang memiliki integritas baik , dalam kesendirian atau dalam keramaian ia akan selalu menebarkan kebaikan. Dipuji, dielu-elukan atau bahkan dikritik habis-habisan, ia akan tetap konsisten memegang erat etika, jujur, dan berkepribadian. Namun, apa kenyataan yang terjadi? Anak-anak kita terlalu sering menjumpai dan bersinggungan dengan hal-hal yang mungkin mereka juga tidak mempercayainya. Tidak sedikit orang yang dipundaknya disematkan berbagai “tanda kehormata” –tokoh masyarakat, politikus, tokoh agama, tokoh pendidikan, dll- namun pada saat yang sama karakternya jauh dari keteladanan.
Bagaimana para pendidik (guru) melihat fenomena ini? Tentu tidak boleh berlarut-larut menyalahkan banyak pihak. Kita berharap, orangtua dapat berperan sebagai orangtua yang kaya dan berlimpah akan keteladanan bagi anak-anaknya. Tokoh masyarakat, atau siapapun yang ditokohkan, hendaknya menjadi inspirasi kebaikan dalam setiap tindakan bagi anak-anak di masyarakat. Selanjutnya tugas pendidik di sekolah adalah memberikan keteladanan untuk banyak hal kepada peserta didiknya.
Para pendidik dalam merancang pembelajaran tidak boleh hanya sekadar mengalir. Harus terencana dan terancang dengan baik. Ada terget akademik dan target pembentukan kepribadian. Karena tugas berat itulah, peran guru menjadi penting dan hanya akan sukses jika dilakukan dengan penuh kesungguhan. Salah satu bekal yang mestinya dimiliki seorang pendidik adalah banyak memiliki strategi penyadaran intelektual dan penyadaran kepribadian untuk peserta didik. Ini hanya dapat diraih dengan banyak membaca dan membudayakan forum-forum ilmiah seperti diskusi, seminar atau sejenisnya yang berujung pada meningkatnya kemampuan, bukan sekadar mencari sertifikat.
Pada lingkungan sekolah, reflek seorang pendidik adalah memiliki naluri kebaikan. Misalnya, ketika melihat anak-anak melakukan pelanggaran etika, guru secara otomatis akan meluruskan anak dengan cara, bahasa, dan waktu yang tepat, tidak dengan mempermalukan anak atau membiarkan kesalahan anak berlarut-larut. Kontrol setiap ucapan dan tindakan guru. Karena setiap saat dan di banyak tempat, ada begitu banyak CCTV yang tidak lain adalah anak-anak kita yang akan merekam perilaku kita sebagai pendidik. Kita tidak ingin, ada anak didik melakukan pelanggaran etika atau kesalahan yang besar karena terinspirasi dari perilaku buruk kita. Karena, kelak ada pertanggungjawaban kita kepada-Nya. Seharusnya, keteladanan keperibadian dan keteladanan intelektual kita ikut membangun kebaikan anak-anak kita, sehingga ada tabungan buat kita –para pendidik- yang selalu mengalir meskipun kita sudah paripurna tugas atau bahkan menhadap-Nya.
* Penulis adalah
Guru Bahasa Indonesia pada SMAN 1 Cipari, Cilacap
Pendiri dan Pembina Yayasan Titian Robbani Cilacap
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) di SMAN 1 Cipari
- KEBUGARAN JASMANI
- TERNYATA, MATEMATIKA ITU TAK MENAKUTKAN
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
Kembali ke Atas






