Sikap Yang Harus Kita Miliki Ketika Kita Sakit

Tiga hari sudah ketika rasa sakit itu datang, mulai ketika rasa megap-megap seperti ikan di daratan, sampai tubuh tergetar laksana dilewati ribuan volt listrik. Kini badai itu mulai terasa berlalu. Rasa yang tadinya begitu menyiksa lambat laun mulai menghilang. Alhamdulillah selama sakit, semua sholat yang selama ini biasa dilakukan tetap bisa terjalankan baik wajib maupun sunah. Walaupun dengan posisi yang mungkin kurang sempurna. Banyak hal yang bisa diperoleh saat kita terbaring sakit jika kita mau memperhatikannya. Beberapa hal yang bisa kita pelajari dan kita lakukan dan harus kita miliki saat kita tergeletak sakit itu diantaranya adalah :
1. Berdoa kepada Allah agar memberikan kesembuhan, kesembuhan yang tidak menyisakan sedikit pun penyakit, serta menyempurnakan kesehatan kita selamanya.
2. Hendaklah berprasangka baik kepada Allah. Luruskan akidah dengan menyadari bahwa ujian yang menimpa ini datang dari Allah yang Maha Pengasih, yang mengasihi melebihi kasih sayang ibu, bahkan melebihi kasih sayang manusia kepada diri sendiri. Allah Maha Suci, Dialah yang menguji manusia, dan ujian itu merupakan kasih sayang-Nya kepada hambanya. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak menguji hamba-Nya yang beriman, menyangkut dirinya, hartanya, atau anaknya, kecuali untuk salah satu dari dua tujuan, yakni mungkin mempunyai dosa yang tidak bisa diampunkan kecuali dengan ujian ini atau ia akan memperoleh derajat di sisi Allah yang tidak bisa dicapainya kecuali dengan ujian ini.
Prasangka baik kepada Allah berarti menyadari bahwa musibah yang menimpa itu merupakan kebaikan bagi manusia itu sendiri, dan itu pasti, akan tetapi banyak orang yang tidak mengetahuinya. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).
3. Tidak disibukkan dengan ujian dan cobaan itu, sehingga melupakan “yang memberi ujian dan cobaan”, yaitu Allah Swt. Banyak orang sakit yang sibuk dengan ujian yang dihadapinya, semua pemikiran mereka terfokus pada mencari dokter, pergi ke laboratorium, melakukan terapi tubuh, dan berbagai terapi modern lainnya, dan seterusnya, tetapi lupa kepada Tuhannya. Padahal sepatutnya, manusia justru lebih dekat kepada Rabbnya pada saat sakit. Akan lebih bermanfaat dan lebih memberikan harapan jika pada saat sakit kita mengadu sepenuh hati kepada Rabbnya sambil berusaha mencari obat.
4. Lebih baik kita berpikir tentang hikmah Illahi dari musibah yang menimpa itu. Allah Maha Bijaksana, ketetapan dan takdir-Nya tidak lepas dari hikmah itu.
5. Meyakini bahwa berobat hanyalah merupakan satu sebab. Sedangkan suatu sebab tidak bisa memberikan efek apapun kecuali dengan izin Allah. Rasulullah Saw bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat mengenai penyakit, maka ia akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR Muslim). “Allah tidak menurunkan penyakit kecuali ada penangkalnya, penangkal itu ada yang diketahui dan ada pula yang tidak mengetahuinya.” (HR Al-Hakim).
Karena itu, salah satu doa Nabi Saw adalah: “Ya Allah, Engkau adalah Asy-Syafi (Maha Menyembuhkan), tidak ada kesembuhan selain kesembuhan dari-Mu.”
6. Kita harus yakin bahwa yang memberikan kesembuhan adalah Allah, bukan dokter atau obat. Penyembuh itu Allah, karena itu hendaklah hati kita tergantung kepada Allah saja, bukan kepada sebab-sebab kesembuhan.
Insya Allah kita akan mencapai kedamaian hati dan segera pula kesembuhan itu datang. Semoga kesabaran selalu dilekaatkan dalam jiwa kita. Aamiin.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) di SMAN 1 Cipari
- KEBUGARAN JASMANI
- TERNYATA, MATEMATIKA ITU TAK MENAKUTKAN
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
Kembali ke Atas






