Belajar dari Kopi

Saya adalah penikmat kopi, bukan peminum kopi. Sehingga setiap minum kopi saya tidak butuh cangkir yang besar. Saya hanya perlu cangkir kecil (125 ml) dan dua sendok kopi serta sedikit gula jawa..... ingat gula jawa, bukan gula yang lain. Dan saya minum berlama-lama, dengan cicipan-cicipan kecil yang benar-benar saya resapi sambil mencari inspirasi. Saya juga seringkali memperhatikan bagaimana orang sekitar saya minum kopi. Dan ternyata Orang zaman dulu, seringkali menerapkan filosofi hidup dalam kegiatan sehari-harinya. Dulu semasa simBah masih sugeng, Suatu hari, saya iseng-iseng bertanya kepada simbah, karena sering saya perhatikan beliau minum kopi selalu ada dua cangkir, pahit dan manis. Saya penasaran mengapa dia minum seperti itu.
“mBah, bolehkah saya tahu mengapa simBah minum 2 cangkir kopi, satu manis dan satu pahit?”
“Coba kemari Nang, minum bareng sama simBah,” ajak simBah.
“Nah, minum yang pahit dulu, lalu minum yang manis.” Saya mengikuti apa kata simBah.
“Bagaimana rasanya, enak bukan?” tanya simBah sambil tersenyum.
Saya menganggukkan kepala sambil berkata, “Rasanya memang enak sekali.”
Kemudian simBah menjelaskan, “Minum kopi dengan cara begini, sama seperti hidup, minum yang pahit dulu, baru kemudian yang manis. Dalam kehidupan manusia juga begitu, kita harus berusaha keras dulu, pahit dulu, baru bisa menikmati hasilnya, baru manisnya.”
Saya tersenyum mendengar penjelasan simBah. Segera saya habiskan kopi saya yang tersisa, kemudian berterima kasih kepada simBah, karena telah memberi dua cangkir kopi hangat yang sarat dengan pelajaran dalam hidup.
Pastikanlah bahwa cangkir itu sendiri sebetulnya sama sekali tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanyalah soal lebih mahal semata. Sedang dalam beberapa kasus, cangkir yang dipilih bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Padahal, apa yang kita inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya.
Namun kita semua secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain, dan biasanya, mulai merasa sangat terganggu bila cangkir di tangan kita tidak seindah yang ada di tangan orang lain.
Sekarang perhatikan hal ini, hati kita ini sebenarnya bagai kopi, sedangkan pekerjaan, kekayaan dan kedudukan adalah cangkirnya. Seringkali karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, akhirnya kita gagal untuk menikmati betapa sedap sebetulnya kopi yang disediakan oleh Tuhan untuk kita !"
Subhanallah…….!!!
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) di SMAN 1 Cipari
- KEBUGARAN JASMANI
- TERNYATA, MATEMATIKA ITU TAK MENAKUTKAN
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
Kembali ke Atas






