Belajar Menjadi Pahlawan
“Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, mengheningkan cipta mulai.” Itulah kalimat ajakan pembina upacara kepada peserta upacara setiap pelaksanaan upacara bendera atau upacara Hari Besar Nasional. Setidaknya, kelimat tersebut mengisyaratkan kita untuk mengenang kebaikan dan jerih payah pahlawan dalam mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Bukankah kita akan tetap terbelenggu dan tetap akan menjadi bulan-bulanan bangsa lain jika tidak ada orang yang mau mempersembahkan pikiran, tenaga, harta, dan bahkan nyawanya untuk membela kebenaran. Karena kebaikan dan jasa pahlawanlah hari ini kita bisa bebas berekspresi dan berkarya tanpa tekanan pihak-pihak tertentu.
Namun, kalimat ajakan tersebut seringkali hanya menjadi kalimat datar karena banyak pihak enggan merenung dan ogah memaknai dengan jernih. Hasilnya, spirit kepahlawanan bukannya menancap di setiap dada dan perilaku warga masyarakat malah tergerus dan menjadi seremonial belaka.
Ada begitu banyak orang terdahulu –pahlawan- yang bisa kita jadikan teladan dalam bertindak. Sekedar contoh kita renungkan sebagian kecil keteladanan Jendral Sudirman pada akhir-akhir menjelang Indonesia merdeka. Dalam keadaan kesehatan yang mulai menurun, beliau meminta keikhlasan isterinya memberikan beberapa perhiasan emas sebagai bekal meneruskan perjuangan. Ini hanya episode kecil dari begitu banyak keteladanan Sang Jendral. Lalu, apa sesungguhnya pesan moral dari mengheningkan cipta pada saat kita mengikuti upacara?
Kita ingin menakar, menimbang-nimbang kontribusi yang paling sederhana yang telah kita lakukan dalam rangka njunjung duwur –hormat kita- pada para pahlawan. Kita harus berani membandingkan potret masa lalu para pahlawan dengan generasi sesudahnya, yaitu kita. Kesimpulannya sederhana, jangankan kita sudah menjadi pahlawan, sedang berproses untuk belajar menjadi pahlawan pun bisa jadi belum. Karena itu, renungan kita saat ini yang tepat adalah bagaimana belajar menjadi pahlawan.
Pahlawan jasanya begitu besar. Dan kita yakin, pahlawan adalah orang-orang yang selalu mandi pahala –pahalanya banyak. Kebaikan dan jasa pahlawan kita kenal bukan karena mereka yang bercerita kesana-kemari tentang kebaikan mereka sendiri. Kita mengenal kebaikan mereka justru dari orang lain dan dari jejak kausalitas perjuangan mereka. Mereka tidak pernah memasang poster, spanduk, atau banner yang memampang foto perjuangan mereka. Mereka tidak pernah menulis wasiat kepada sanak keluarga agar kelak dibangun prasasti yang memuat nama dan perjuangan mereka. Sungguh, kita mengenal mereka –para pahlawan- dari jejak kebaikan mereka bukan dari mulut mereka. Pantas, pahlawan adalah orang-orang yang banyak jasa dan pahala.
Lalu, apa yang sekarang sedang kita pikirkan dan kita lakukan, kalau kita sudah berketetapan untuk belajar menjadi pahlawan? Dari hal yang sederhana, kita memulai. Inti karakter seorang pahlawan adalah kerelaan untuk berkorban, sekecil apapun. Ini harus menjadi awal pijakan untuk melangkah.
Kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan rela jika kesungguhan kita tidak terpublikasi. Ini adalah belajar menjadi pahlawan. Jika kita mengerjakan sesuatu, kita rela untuk sebaik mungkin agar pekerjaan kita tidak berujung pada menyulitkan orang lain. Ini belajar menjadi pahlawan. Kita berani minggalkan kesenangan dan kecintaan kita terhadap sesuatu –atau seseorang- seandainya tidak kita tinggalkan akan membuat orang lain terdholimi dan tersakiti. Ini adalah belajar menjadi pahlawan. Jika kita pemimpin, kita berhati-hati dalam mengambil keputusan, karena kalau tidak akan terjadi gesekan antarpersonal dan berdampak pada menurunya produktivitas. Ini adalah belajar menjadi pahlawan. Kita akan bergerak, meluruskan keadaan, meskipun kepentingan pribadi kita tidak terusik. Ini adalah belajar menjadi pahlawan.
Apabila kita masih belum sepakat dengan contoh-contoh sederhana di atas, layakah kita, tanpa merasa bersalah, mendengar berkali-kali ajakan untuk mengikuti jejak pahlawan? Lebih tidak layak lagi kalau belajar menjadi pahlawan saja belum, sementara dengan gagahnya ia mengucapkan kalimat populer, “ Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, mengheningkan cipta mulai.”
Jika kita tidak berminat untuk belajar menjadi pahlawan, menangislah ketika ada pihak yang mengajak kita untuk mengenang jasa para pahlawan. Negeri ini masih butuh begitu banyak orang yang mau berletih-letih meluangkan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk kepentingan orang lian. Bergegaslah untuk segera belajar menjadi pahlawan.
Penulis adalah
Guru Bahasa Indonesia pada SMAN 1 Cipari, Cilacap
Pendiri dan Pembina SD Cahaya Gandrungmangu, TK Cahaya Kawunganten
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) di SMAN 1 Cipari
- KEBUGARAN JASMANI
- TERNYATA, MATEMATIKA ITU TAK MENAKUTKAN
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
Kembali ke Atas






