• header
  • header
  • alaskapala
  • inkai sman 1 cipari

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 1 CIPARI | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 CIPARI

NPSN : 20300596

Jl.MT.Haryono 04 Cipari Cilacap Telp.0280-6226190


info@sman1cipari.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 947904
Pengunjung : 349652
Hari ini : 141
Hits hari ini : 385
Member Online : 9
IP : 216.73.217.35
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • DARTO S.Pd (Guru)
    2020-03-30 07:26:15

    TERMOMETER OPTIK Termometer optik adalah alat pengukur suhu yang memanfaatkan sinar inframerah yang dipancarkan oleh benda. Jika suhu benda menin...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2017-05-04 09:05:37

    Semat dan semoga sukses selalu buat anak-anak ku kelas XII SMAN 1 Cipari yang telah selesai menempuh pendidikan di SMA. Semoga semuan...
  • DARTO S.Pd (Guru)
    2017-03-20 14:09:03

    Apa yang Anda pikirkan?
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:18:00

    1|2
  • JUMI ANAWATI S.Psi (Guru)
    2016-09-01 15:16:10

    1|1
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2016-03-23 12:41:19

    keadilan yang tertunda atau terlupakan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-12-10 08:40:54

    Prepare buat bikin wadah kreatifitas siswa...
  • Drs BAMBANG SETIAWAN MM (Guru)
    2015-11-21 17:31:57

    Kebenaran itu akan semakin rumit jika ketakbenaran yang dibenarkan............
  • SALMIZAN S.Pd (Guru)
    2015-11-04 18:35:37

    Apa yang Anda pikirkan?
  • HARDIYANTO TRI KUSWINARNO S.P (Guru)
    2015-11-04 12:32:18

    cipari menunggu hujan........

Belajar Menjadi Pahlawan




“Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, mengheningkan cipta mulai.”  Itulah kalimat ajakan pembina upacara  kepada peserta upacara  setiap pelaksanaan upacara bendera atau upacara Hari Besar Nasional. Setidaknya, kelimat tersebut  mengisyaratkan kita untuk mengenang kebaikan dan jerih payah pahlawan dalam mewujudkan kemerdekaan negeri ini. Bukankah kita akan tetap terbelenggu dan tetap akan menjadi bulan-bulanan bangsa lain jika tidak ada orang yang mau mempersembahkan pikiran, tenaga, harta, dan bahkan nyawanya untuk membela kebenaran. Karena kebaikan dan jasa pahlawanlah hari ini kita bisa bebas berekspresi dan berkarya tanpa tekanan pihak-pihak tertentu.

Namun, kalimat ajakan tersebut seringkali hanya menjadi kalimat datar karena banyak pihak enggan merenung dan ogah memaknai dengan jernih. Hasilnya, spirit kepahlawanan bukannya menancap di setiap dada dan perilaku warga masyarakat malah tergerus dan menjadi seremonial belaka.

Ada begitu banyak orang terdahulu –pahlawan- yang bisa kita jadikan teladan dalam bertindak. Sekedar contoh kita renungkan sebagian kecil keteladanan Jendral Sudirman pada akhir-akhir menjelang Indonesia merdeka. Dalam  keadaan kesehatan yang mulai menurun, beliau meminta keikhlasan isterinya memberikan beberapa perhiasan emas sebagai bekal meneruskan perjuangan.  Ini hanya episode kecil dari begitu banyak keteladanan Sang Jendral. Lalu, apa sesungguhnya pesan moral dari mengheningkan cipta pada saat kita mengikuti upacara?

Kita ingin menakar, menimbang-nimbang kontribusi yang paling sederhana yang telah kita lakukan dalam rangka njunjung duwur –hormat kita- pada para pahlawan. Kita harus berani membandingkan potret masa lalu para pahlawan dengan generasi sesudahnya, yaitu kita. Kesimpulannya sederhana, jangankan kita sudah menjadi pahlawan, sedang berproses untuk belajar menjadi pahlawan pun bisa jadi belum. Karena itu, renungan kita saat ini yang tepat adalah bagaimana belajar menjadi pahlawan.

Pahlawan jasanya begitu besar. Dan kita yakin, pahlawan adalah orang-orang yang selalu mandi pahala –pahalanya banyak. Kebaikan dan jasa pahlawan kita kenal bukan karena mereka yang bercerita kesana-kemari tentang kebaikan mereka sendiri. Kita mengenal kebaikan mereka justru dari orang lain dan dari jejak kausalitas perjuangan mereka. Mereka tidak pernah memasang poster, spanduk, atau banner yang memampang foto perjuangan mereka. Mereka tidak pernah menulis wasiat kepada sanak keluarga agar kelak dibangun prasasti yang memuat nama dan perjuangan mereka. Sungguh, kita mengenal mereka –para pahlawan- dari jejak kebaikan mereka bukan dari mulut mereka. Pantas, pahlawan adalah orang-orang yang banyak jasa dan pahala.

Lalu, apa yang sekarang sedang kita pikirkan dan kita lakukan, kalau kita sudah berketetapan untuk belajar menjadi pahlawan? Dari hal yang sederhana, kita memulai. Inti karakter seorang pahlawan adalah kerelaan untuk berkorban, sekecil apapun. Ini harus menjadi awal pijakan untuk melangkah.

Kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan rela jika kesungguhan kita tidak terpublikasi. Ini adalah belajar menjadi pahlawan. Jika kita mengerjakan sesuatu, kita rela untuk sebaik  mungkin agar pekerjaan kita tidak berujung pada menyulitkan orang lain. Ini belajar menjadi pahlawan. Kita berani minggalkan kesenangan dan kecintaan kita terhadap sesuatu –atau seseorang- seandainya  tidak kita tinggalkan akan membuat orang lain terdholimi dan tersakiti. Ini adalah belajar menjadi pahlawan. Jika kita pemimpin, kita berhati-hati dalam mengambil keputusan, karena kalau tidak akan terjadi gesekan antarpersonal dan berdampak pada menurunya produktivitas. Ini adalah belajar menjadi pahlawan. Kita akan bergerak, meluruskan keadaan, meskipun kepentingan pribadi kita tidak terusik. Ini adalah belajar menjadi pahlawan.

Apabila kita masih belum sepakat dengan contoh-contoh sederhana di atas, layakah kita, tanpa merasa bersalah, mendengar berkali-kali ajakan untuk mengikuti jejak pahlawan? Lebih tidak layak lagi kalau belajar menjadi pahlawan saja belum, sementara dengan gagahnya ia mengucapkan kalimat populer, “  Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, mengheningkan cipta mulai.”

Jika kita tidak berminat untuk belajar menjadi pahlawan, menangislah ketika ada pihak yang mengajak kita untuk mengenang jasa para pahlawan. Negeri ini masih butuh begitu banyak orang yang mau berletih-letih meluangkan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk kepentingan orang lian. Bergegaslah untuk segera belajar menjadi pahlawan.

 

Penulis adalah

Guru Bahasa Indonesia pada SMAN 1 Cipari, Cilacap

Pendiri dan Pembina SD Cahaya Gandrungmangu, TK Cahaya Kawunganten




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas