Agar Tidak Asing di Rumah Sendiri

Betapa pun sederhananya, seseorang akan bertempat tinggal di sebuah rumah, bisa rumah sendiri, kontrakan, atau yang lainnya. Rumah menjadi tempat yang paling banyak untuk beraktivitas atau istirahat seseorang. Karena itulah, setiap penghuni seharusnya paham betul secara detail seluk-beluk rumah yanng ditempatinya.
Indonesia adalah rumah besar bangsa ini. Di Indonesia kita dilahirkan, kecil dan dibesarkan. Beraktivitas mencari penghidupan tak berkesudahan. Bahkan, Ismail Marzuki dalam lagu Indonesia Pusaka menyebutkan:
...
Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata
...
Seharusnya, kita paham benar dengan rumah kita yang subur dan nyaman, Indonesia tercinta. Paham dengan segala peristiwa sejarah, paham dengan asal-usul dan kemauan nenek moyang. Kita juga harus paham bahwa di hamparan tanahnya tanaman apa saja bisa tumbuh subur, di perut buminya tersimpan kekayaan melimpah yang karena itulah pihak asing banyak yang ngiler ingin menguasainya.
Namun, justru tidak sedikit masyarakat kita yang “memahami sesuatu” hanya klaim semata. Buktinya, ada pihak tertentu yang membenturkan antara Islam dengan kebinekaan. Seakan orang-orang yang merindukan tegaknya nilai-nilai Islam membahayakan keutuhan bangsa. Padahal, seorang pengamal Islam tidak akan mengabaikan perbedaan apalagi mengancam kebinekaan. Sederet nama tokoh Islam yang memiliki sumbangsih kemerdekaan Indonesia telah membuktikan mau berbagi rasa. Karena itulah lahir Pancasila.
Ada tradisi indah dalam masyarakat Indonesia, penghuninya senang berkorban. Kemerdekaan ada karena pengorbanan. Filosofi orang yang senang berkorban, tidak akan merugikan orang lain, tidak akan memperlihatkan apalagi mengiklankan jerih payah pengorbannya. Jiwa berkorban juga tidak akan “membeli” murah orang agar mendukung atau bersimpati terhadap perjuangannya. Karena itu, pelaku korupsi, bagi-bagi sembako saat pilkada atau pemilu, intimidasi terhadap yang tidak mendukung, adalah contoh sikap bahwa yang bersangkutan asing dengan rumah sendiri, tidak paham dengan kultur luhur Indonesia.
Para pahlawan adalah sepaham-paham generasi terhadap Indonesia. Perjuangan mereka terbukti tidak berorientasi pencitraan. Mereka sibuk dengan diskusi mengatur siasat agar kemerdekaan lebih cepat terwujud. Energi terbatas yang mereka miliki digunakan untuk menghormati orang lain, menyayangi teman, dan memuliakan ulama. Lihat saja, bukankah pertempuran 10 November 1945 oleh arek-arek Surabaya terilhami oleh spirit Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dimotori oleh ulama?
Agar kita tidak asing di rumah sendiri, kenalilah dengan cermat seluk-beluk seisi rumah. Agar kita tidak asing di negeri Indonesia, kenalilah dengan seluruh indra segala yang ada di dalamnya. Karena ukuran kenal, tidak sekadar trampil bercakap kata, namun indahnya pelaksanaan lebih dinanti banyak orang.
Sidareja, 18 September 2017
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) di SMAN 1 Cipari
- KEBUGARAN JASMANI
- TERNYATA, MATEMATIKA ITU TAK MENAKUTKAN
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
Kembali ke Atas






