Ukuran Kebenaran

Kalau ukuran kebaikan dan kebenaran adalah pertimbangan orang-perorang semata, dalam banyak hal akan menimbulkan kegaduhan dan benturan. Akal atau pikiran seseorang, sejernih apapun, di samping tak sempurna juga tidak bisa benar-benar merdeka dari tarik-menarik kepentingan dan nafsu yang mengitarinya. Maka, Islam hadir untuk meminimalkan bahkan meniadakan kegaduhan dan benturan.
Lihat saja, bagaimana orang mengabadikan peristiwa di masa lampau dalam bentuk teks sejarah. Misalnya, peristiwa aksi biadab PKI di Indonesia antara tahun 1948 sampai 1965. Melalui keterbatasan pikir, ternyata pihak-pihak tertentu menghadirkan kembali peristiwa kelam tersebut menjadi banyak versi. Celakanya, biang kerok huru-hara, yaitu PKI, bahkan diposisikan sebagai korban. Sungguh, sepintar apapun seseorang, pikiran dan ide-idenya berpotensi besar terdikte oleh banyak kepentingan yang melingkupinya. Maka, Islam lahir untuk menjernihkan setiap persoalan.
Andai setiap orang mengedepankan sikap rendah hati, memiliki kesadaran penuh akan keterbatasan cara pandang, cara pikir, dan cara bersikap, maka ia akan selalu melibatkan kebenaran hakiki (Islam) untuk merancang dan menyelesaikan persoalan. Dengan begitu, sebagai apapun seseorang, akan bisa beride dan bersikap wajar, jauh dari kepentingan yang berpotensi merugikan banyak pihak.
Bukti yang sederhana dapat kita rasakan, bagaimana benturan-benturan sosial dan politik dari skala kecil sampai yang menggemparkan sering terjadi. Pola pikir dan pola perilaku kasar mewarnai konflik kepentingan. Kalau seorganisasi, sekelompok, dan separtai, maka akan dibela mati-matian, meski kesalahannya menganga dan terbaca oleh banyak orang. Dan, kalau tidak seorganisasi, tidak sekelompok, dan tidak separtai maka akan diserang habis, meski kebenarannya seputih salju dan terekam jelas. Maka, Islam hadir untuk memimbing agar orang bisa menilai yang benar dikatakan benar, meski ia tidak seorganisasi. Pun, Islam hadir untuk memimbing agar orang bisa menilai yang salah dikatakan salah, meski ia seorganisasi.
Teruslah berpikir dan berkarya, namun berilah porsi pada kebenaran agama. Dengannya, kebaikan dan persatuan akan terjaga. Indonesia, negeri dicinta banyak orang dan dirindu untuk bersatu. Semoga Allah selalu berkenan menjagamu.
Indonesia-ku...
Dari kampung yang jauh aku tetap mencintaimu.
Sidareja, 8 Oktober 2017
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- Gerakan Sekolah Sehat (GSS) di SMAN 1 Cipari
- KEBUGARAN JASMANI
- TERNYATA, MATEMATIKA ITU TAK MENAKUTKAN
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
- Belajar Sejarah itu menumbuhkan cinta, cinta peserta didik terhadap tanah air
Kembali ke Atas






